Keanekaragaman Hayati
Wednesday April 18th 2007, 1:02 pm
Filed under: Uncategorized
Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari mahluk bersel satu hingga mahluk bersel banyak; dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem.
Secara garis besar, keanekaragaman hayati terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu :1. Keanekaragaman gen
Setiap sifat organisme hidup dikendalikan oleh sepasang faktor keturunan (gen), satu dari induk jantan dan lainnya dari induk betina. Keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dalam satu jenis.
misalnya :
- variasi jenis kelapa : kelapa gading, kelapa hijau
- variasi jenis anjing : anjing bulldog, anjing herder, anjing kampung
Yang membuat variasi tadi adalah : Rumus : F = G + L
F = fenotip
G = genoti
L = lingkungan
Jika G berubah karena suatu hal (mutasi dll) atau L berubah maka akan terjadi perubahan di F. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya variasi tadi.2. Keanekaragaman jenis (spesies)
Keanekaragaman ini lebih mudah diamati daripada Keanekaragaman gen. Keanekaragaman hayati tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya beraneka macam jenis mahluk hidup baik yang termasuk kelompok hewan, tumbuhan dan mikroba.
misalnya :
- variasi dalam satu famili antara kucing dan harimau. Mereka termasuk dalam satu famili(famili/keluarga Felidae) walaupun ada perbedaan fisik, tingkah laku dan habitat.
Ketiga macam keanekaragaman tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Ketiganya dipandang sebagai suatu keseluruhan atau totalitas yaitu sebagai keanekaragaman hayati.
Manfaat Mempelajari Keanekaragaman Hayati1 Dengan mengetahui adanya keanekaragamaan gen merupakan modal dasar untuk melakukan rekayasa genetika dan hibridisasi (kawin silang) untuk mendapatkan bibit unggul yang diharapkan.
Sistem Klasifikasi
Dibedakan menjadi 31 Sistem Klasifikasi Alamiah
- diciptakan oleh Theophrastus (370SM - 285SM), salah satu
murid Aristoteles
- didasarkan pada bentuk yang dapat dilihat dengan mata biasa
(morfologi)
- tumbuhan dibagi menjadi 4 kelompok : pohon, semak, perdu
dan herba
TINGKAT TAKSONOMI
Disebut juga tingkat pengelompokkan.Tingkatan ini disusun oleh kelompok (takson) yang paling umum sampai kepada kelompok yang paling khusus, dengan urutan tingkatan sebagai berikut:1. Regnum/Kingdom (Dunia/Kerajaan)
2. Divisio/Phyllum (Tumbuhan/Hewan)
3. Classis (Kelas)
4. Ordo (Bangsa)
5. Familia (Suku)
6. Genus (Marga)
7. Species (Jenis)
TATA NAMA
Dalam pemberian nama mahluk hidup kita mengenal nama daerah (anjing, dog) dan nama ilmiah (ex: canine). Nama daerah hanya dapat dimengerti oleh penduduk di daerah itu. Nama Ilmiah digunakan sebagai alat komunikasi ilmiah di seluruh dunia menggunakan bahasa latin/yang dilatinkan. Setiap organisme hanya memiliki satu nama yang sah.
CARA PEMBERIAN NAMA JENIS
Sistem tata nama yang digunakan disebut “binomial nomenclatur” yaitu pemberian nama jenis/spesies dengan menggunakan 2 kata. Misalnya: padi > Oryza sativa. Cara :
Kata depan : nama marga (genus)
Kata belakang : nama petunjuk spesies (spesies epithet). Sistem binomial nomenklatur dipopulerkan pemakaiannya oleh Carolus Linnaeus.
CARA PEMBERIAN NAMA KELAS, BANGSA DAN FAMILI
Nama kelas adalah nama genus + nae. contoh: Equisetum + nae, menjadi kelas Equisetinae.
Nama ordo adalah nama genus + ales. contoh: zingiber + ales, menjadi ordo Zingiberales.
Nama famili adalah nama genus + aceae. contoh: Canna + aceae, menjadi famili Cannacea
Pengelompokkan Mahluk Hidup
Whitaker (1969) mengelompokkan mahluk hidup ke dalam lima kerajaan/regnum:
1. Regnum Monera
Monera merupakan golongan organisme yang bersifat prokariotik (inti selnya tidak memiliki selaput inti). Regnum ini dibagi menjadi dua golongan yaitu :1.1. Golongan bakteri (Schizophyta/Schizomycetes)
1.2. Golongan ganggang biru (Cyanophyta)
2. Regnum Protista
Protista merupakan organisme yang bersifat eukariotik (inti selnya sudah memiliki selaput inti). Pembentukan regnum ini diusulkan oleh Ernst Haeckel atas pertimbangan adanya organise-organisme yagn memiliki ciri tumbuhan (berklorofil) sekaligus memiliki ciri hewan (dapat bergerak). Yang termasuk dalam regnum ini adalah : 2.1. Protozoa
2.2. Ganggang bersel satu
3. Regnum Fungi (Jamur)
Fungi merupakan organisme uniseluler (bersel satu) dan multiseluler (bersel banyak) yang tidak berklorofil, fungi multiseluler dapat membentuk benang-benang yang disebut hifa. Seluruh anggota dari regnum ini bersifat heterotrof. Regnum ini dibagi menjadi beberapa divisi yaitu:1.1. Oomycotina
1.2. Zygomycotina
1.3. Ascomycotina
1.4. Basidiomycotina
1.5. Deuteromycotina
4. Regnum Plantae (Tumbuhan Hijau)
Meliputi organisme bersel banyak (multiseluler) dan sel-selnya mempunyai dinding sel. Hampir seluruh anggota berklorofil sehinga sifatnya autotrof. Yang termasuk dalam Regnum Plantae adalah:1.1. Ganggang bersel banyak (diluar ganggang biru)
1.2. Lumut (Bryophyta)
1.3. Paku-pakuan (Pteridophyta)
1.4. Tumbuhan Berbiji (Spermatophyta)
5. Regnum Animalia (Kerajaan Hewan)
Meliputi organisme bersel banyak, yang sel-selnya tidak berdinding sel dan tidak berklorofil sehingga bersifat heterotrof. Yang termasuk regnum ini adalah filum:1.1. Porifera
1.2. Coelenterata
1.3. Platyhelminthes
1.4. Nemathelminthes
1.5. Annelida
1.6 Echinodermata
1.7 Arthropoda
1.8 Chordata
Klasifikasi Tumbuhan Dan Hewan
KLASIFIKASI TUMBUHAN
Anggota +/- 500.000 - 600.000 spesies1. ALGA/GANGGANG
Dibagi dalam beberapa kelas:
a. Chlorophyta: Ganggang Hijau
b. Chrysophyta: Ganggang Keemasan
c. Phaeophyta: Ganggang Pirang/Coklat
d. Rhodophyta: Ganggang Merah.
2. BRYOPHYTA: LUMUT
3. PTERIDOPHYTA: PAKU-PAKUAN
Dibagi menjadi beberapa kelas:
a. Kelas Psilophytinae
b. Kelas Equisetinae
c. Kelas Lycopodinae
d. Kelas Filicinae
4. SPERMATOPHYTA ATAU TUMBUHAN BERBIJI
Menghasilkan biji sebagai alat berkembang biak, nama lainnya Embriophyta Siphonogamae (tumbuhan berembrio yang perkawinannya melalui suatu saluran) atau Antophyta (tumbuhan berbunga) atau Phanerogamae (alat kelaminnya tampak jelas yaitu berupa benang sari dan putik).
KLASIFIKASI HEWAN
Dalam mengelompokkan hewan untuk takson filum para ahli biologi menggunakan beberapa karakteristik hewan, antara lain:1. Uniseluler atau multiseluler
2. Diploblastik atau tripoblastik.
3. Metameri atau non metameri.
4. Asimetri, simetri radial atau simetri bilateral.
5. Anggota tubuh berbuku-buku atau tidak.
6. Mempunyai kerangka luar atau kerangka dalam.
7. Mempunyai notokord atau tidak.
8. Bentuk dan letak sistem organ.
Untuk klasifikasi hewan, yang dibahas hanya filum Chordata.
FILUM CHORDATA
ciri utama adalah (1) memiliki chorda dorsalis/notokord dan (2) tubuhnya simetris bilateral. Dibagi menjadi 4 subfilum : 1. subfilum Hemichordata
2. subfilum Tunicata/Urochordata
3. subfilum Cephalochordata
4. subfilum Vertebrata
Subfilum Vertebrata dibagi menjadi beberapa kelas:1. Kelas Agnatha : Ikan tidak berahang
2. Chondrichtyes : Ikan bertulang rawan
3. Osteichtyes : Ikan bertulang sejati
4. Amphibi : katak dan salamander
5. Kelas Reptil : hewan melata
6. Kelas Aves : unggas
7. Kelas Mamalia : hewan menyusui
Contoh : Klasifikasi kucing
Regnum = Animalia, Filum = Chordata, Subfilum = Vertebrata, Kelas = Mamalia, Ordo = Carnivora, Famili = Felidae, Genus = Felis, Species = Felis domestica (Kucing)
Sumber : www.pintugerbang.net
1 Comment
Otot rangka
Sunday April 15th 2007, 4:37 am
Filed under: Uncategorized
Otot rangka merupakan sejenis otot berstria yang lekat pada rangka. Otot rangka digunakan untuk memudahkan pergerakan, dengan mengenakan tekanan kepada tulang dan sendi melalui pengecupan. Otot rangka secara umumnya kuncup secara terkawal melalui stimulasi saraf, walaupun ia boleh mengucup secara luar kawal.
Otot rangka mempunyai bentuk bersilinderan panjang dan nukleus berbilang. Nukleus otot ini terdapat di bawah membran plasma yang mengosongkan bahagian tengah gentian otot untuk miofibril. Aturan unik ini membenarkan pergerakan yang lebih berkesan. Otot ini biasanya mempunyai salah satu hujungnya terlekat kepada tulang pegun seperti skapula, dan hujung satu lagi melintasi sendi dan melekat kepada tulang yang lain seperti humerus).
Bagaimana tulang rangka berfungsi
Kekuatan otot rangka selari dengan kawasan keratan lintangnya. Kekuatan badan pula bergantung kepada prinsip biomekanik (jarak di antara selitan otot dan sendi, saiz otot, dan sebagainya). Otot biasanya diatur berlawanan agar apabila satu kumpulan otot mengucup, satu kumpulan otot lagi longai.
Sel otot rangka dirangsangkan oleh asetilkolina yang di bebaskan di persimpangan neuromuskular oleh neuron motor. Apabila sel dirangsangkan, retikulum sarkoplasmanya akan membebaskan ion kalsium (Ca2+). Ini akan saling bertindak dengan miofibril dan, dengan itu, mendorong pengucupan otot (melalui mekanisme filamen gelongsor. Selain kalsium, proses ini memerlukan adenosina trifosfat (ATP). ATP dihasilkan melalui proses yang memetabolismekan kreatina fosfat dan glikogen yang disimpan dalam sel otot serta glukosa dan asid lemak yang diperolehi daripada darah.
Setiap neuron motor mengawal sekumpulan sel otot yang dikenali sebagai “unit motor”. Apabila lebih tenaga diperlukan, dari apa yang dihasilkan oleh satu unit motor, lebih banyak unit dirangsangkan; ini dikenali sebagai “penglibatan unit motor”. Jika lebih tenaga diperlukan dari apa yang boleh di dapati dari pengucupan unit semasa, neuron motor akan menghantar rangsangan tambahan; ini menyebabkan proses “penjumlahan pengecutan” yang meningkatkan tahap pengucupan. Jika otot mengucup secara maksima, ia dikatakan telah mencapai tahap “pengucupan tetanik”.
Gentian Merah dan Putih
Otot rangka mengandungi dua jenis gentian, digunakan untuk menghasilkan ATP; jumlahnya berbeza dari otot ke otot, dan dari seseorang dengan yang lain.
* Gentian merah (”sentak-perlahan”) mempunyai lebih mitokondria, menyimpan oksigen dalam mioglobin, bergantung kepada metabolisme aerob dan dikaitkan dengan daya ketahanan; ia menghasilkan ATP lebih perlahan. Pelari maraton cenderung mempunyai lebih banyak gentian merah.
* Gentian putih (”sentak pantas”) mempunyai kurang mitokondria, mampu untuk lebih berkuasa (tetapi lebih pendek) pengucupan, metabolisme ATP lebih pantas, dan lebih kemungkinan mengumpul asid laktik. Pengangkat berat dan pemecut cenderung mempunyai lebih gentian putih.
0 Comments
Kaku Mayat
Sunday April 15th 2007, 4:25 am
Filed under: Uncategorized
Rigor mortis adalah kekakuan otot yang irreversible yang terjadi pada mayat setelah relaksasi primer. Rigor mortis bukan merupakan fenomena yang khas manusia, karena hewan yang invertebrata dan vertebrata juga mengalami rigor mortis. Louise pada tahun 1752 adalah orang yang pertama kali menyatakan rigor mortis sebagai tanda kematian. Lebih specifik lagi Kusmaul menyatakan bahwa rigor mortis adalah tanda terjadinya kematian otot yang sesungguhnya. kemudian Nysten tahun 1811 adalah orang yang melengkapi penemuan pertama dari rigor mortis ini.
Setelah terjadinya kematian segera akan diikuti oleh relaksasi muskuler secara total yang dikenal dengan primary muscular flaccidity , pada saat ini sel dan jaringan otot masih hidup dan masih menunjukan reaksi pengerutan bila mendapat rangsangan mekanis atau listrik. Keadaan seperti ini disebut reaksi supravital, yaitu suatu keadaan pada mayat yang masih dapat menghasilkan gambaran intravital. Dengan berlalunya waktu reaksi supravital akan berkurang, karena makin banyak otot yang mati. Umumnya reaksi supravital berlangsung sangat singkat, antara 3 – 6 jam setelah kematian (rata-rata 2 – 3 jam) Walaupun demikian reaksi yang jelas adalah 1 – 2 jam pertama setelah kematian.
Bersamaan dengan menghilangnya reaksi supravital, rigor mortis muncul secara serentak pada semua otot volunter dan otot involunter. Rigor mortis pada otot kerangka sesungguhnya terjadi secara simultan pada semua otot, tetapi biasanya lebih nyata dan mudah diamati pada otot-otot kecil , sehingga sering dikatakan bahwa rigor mortis muncul dari otot-otot kecil berturut-turut ke otot yang lebih besar dan menyebar dari atas kebawah. Shapiro pada tahun 1950 menganggap bahwa secara tradisional rigor mortis yang terjadi mulai dari atas ke bawah perlu direvisi, dia juga bahwa proses rigor mortis adalah proses phsyco-chemical yang terjadi secara spontan mempengaruhi semua otot sehingga tidak terjadi dari atas kebawah tetapi satu keseluruhan yang melibatkan sendi-sendi beserta otot-ototnya. (polson)
Krompecher dan Fryc pada tahun 1978 menemukan dalam penelitiannya bahwa rigor mortis yang terjadi pada otot besar dan kecil menunjukan waktu yang sama dalam hal munculnya yaitu maksimal 4½ jam, dan menetap selama 2 jam dan kemudian terjadi resolusi sempurna. Hal ini membuktikan bahwa rigor mortis terjadi secara simultan pada semua otot, sedangkan urutan rigor mortis hanyalah urutan intensitas rigor mortis yang terukur pada pemeriksaan manual yang kasar.
Niderkorn`s pada tahun 1872 mengobservasi 113 mayat untuk mengetahui perkembangan rigor mortis yang terjadi seperti yang biasanya disebutkan pada buku-buku teks, dia mendapatkan hasilnya adalah sebagai berikut:
Dalam urutan ini, rigor mortis menjadi menyeluruh dalam 14 % kasus dalam 3 jam postmortem dan presentasi ini meningkat menjadi 72 % dalam 6 jam atau menjadi 90 % dalam 9 jam. Pada 12 jam postmortem rigor mortis menjadi komplet dalam 98 % kasus. Dengan data yang ada seperti ini, dapat dimengerti bahwa kutipan-kutipan yang mengatakan bahwa rigor mortis dimulai dalam 6 jam pertama, menjadi menyeluruh dalam waktu 6 jam, dipertahankan dalam waktu 12 jam dan menghilang dalam waktu 12 jam ini adalah sangat menyesatkan, seperti yang diterapkan di india dan pola seperti ini dikenal dengan Rule of Twelve.
Rigor mortis yang belum sempurna atau belum mencapai kekakuan maksimal bila dibengkokkan secara paksa akan melemas dan membengkok tetapi akan kembali kaku pada posisi terakhir. Sedangkan bila rigor mortis sudah terjadi secara sempurna, diperlukan tenaga yang besar untuk melawan kekuatan rigor yang menyebabkan robeknya otot dan dikatakan rigor telah “putus” dan rigor tidak akan timbul kembali sekali dipatahkan oleh kekuatan. Sehingga Smith mengingatkan agar pemeriksaan rigor mortis dilakukan sebelum membuka pakaian mayat, karena dengan melakukan manipulasi pada tubuh korban (membuka pakaian mayat) akan mengubah keadaan rigor mortis.
Mallach, pernah menyusun tabel yang diambil dari data-data yang dipublikasi selama 150 tahun (1811-1960) yang didapat secara kasar dari berbagai variasi metodologi, dan didapat data seperti di bawah ini:
Pada suhu rata-rata, dapat digunakan suatu pengalaman dalam memperkirakan saat mati, seperti tabel di bawah ini akan tetapi harus digunakan secara berhati-hati:
Ada beberapa cara yang dipakai dalam menentukan terjadinya rigor mortis. Cara pertama dengan pemeriksaan secara manual, dimana diperiksa sendi mana saja yang sudah kaku, berapa kekuatannya, sempurna atau tidak. Diperiksa dengan cara memfleksikan atau membuat ekstensi persendian, karena tidak ada patokan yang jelas maka pemeriksaan ini bersifat subyektif, sehingga diperlukan waktu yang cukup dan berhati-hati dalam memeriksanya. Oppenheimer pada tahun 1919 melakukan penelitian terhadap 43 mayat yang diketahui meninggal 8 – 48 jam sebelumnya, tak berhasil menentukan saat kematian berdasarkan rigor mortis.
Forster , mengusulkan suatu pemeriksaan rigor mortis yang lebih objektif, dengan menggunakan suatu alat dalam pengukurannya. Alat yang digunakan berupa alat fiksasi dari kayu yang menempel pada meja. Mayat ditelungkupkan dengan paha yang terfiksasi pada meja. Pada daerah lutut terdapat batangan besi yang bersendi dengan alat fiksasi. Ujung bebasnya terpasang rantai yang dihubungkan dengan neraca per. Neraca per ini dihubungkan dengan ujung bawah tibia dengan sudut tegak lurus. Pengukuran dilakukan dengan cara menarik batangan menuju paha sehingga sendi lutut dibengkokan. Tenaga yang terbaca pada neraca per menunjukan tenaga maksimal yang diperlukan untuk mengatasi rigor mortis pada penampang paha, yang dikenal sebagai indeks FRR (Freiburger Rigor Index). Ketepatan pengukuran dengan alat ini adalah sampai 5 Nm. Dengna pemeriksan pada suhu tertentu akan didapatkan grafik hubungan saat kematian dengan kekuatan rigor mortis. Sehingga bila diketahui nilai FRR pada kondisi yang sama, akan dapat diketahui saat kematiannya.
Pemeriksaan lain yang dapat digunakan untuk melihat terjadinya rigor mortis adalah dengan menggunakan mikroskop elektron. Pemeriksaan otot rangka dengan menggunakan mikroskop elektron menujukan adanya gambaran granul-granul kecil yang menempel pada aktin dan miosin (terutama jelas pada aktin) pada batas antara pita (band) A dan I. Sepintas lalu gambaran granul membentuk salib-salib yang berbaris dengan periodisitas 400 Angstrom. Diduga granul tersebut adalah jembatan antara aktin dan miosin pada rigor mortis. Secara biokimiawi diduga granul tersebut adalah troponin, karena dapat bereaksi dengan globulin anti troponin. Troponin merupakan reseptor ion kalsium yang berperan pada mekanisme kontraksi dan relaksasi otot. Bila ion kalsium dilepaskan, aktin dan miosin mendapat penekanan dan terjadi relaksasi otot. Bila troponin mengikat ion kalsium, tekanan tadi tidak ada lagi dan otot berkontraksi.
Secara kronologis perubahan penampakan otot dengan mikroskop elektron adalah sebagai berikut:
1. Rigor mortis baru terbentuk (3 jam post mortem), terdapat gambaran granul pada batas pita A dan I.
2. Rigor mortis sudah sempurna (6 – 12 jam post mortem), granul pada pta A makin jelas, pada pita H (miosinsaja) muncul granul yang sama.
3. 24 jam post mortem, granul pada pita A masih jelas, teta[I yang pada pita H sudah menghilang.
4. 48 jam post mortem, granul sudah menghilang seluruhnya, sebagian miofibril aktin sudah menghilang pla karena pembuukan. Granul troponin ini merupakan tanda khas rigor mortis.
Perubahan lain pada gambaran mikroskop elektron, seperti pembengkakan atau destruksi motikondria dan retikulum endoplasmik dan edema miofibril ternyata tidak terdapat pada otot mencit yang dibunuh dengan 2,4 dinitrophenol atau monoiodoacetic acid. Sehingga gambaran ini bukanlah gambaran khas rigor mortis.
Memperkirakan saat kematian dengan menggunakan rigor mortis akan memberikan petunjuk yang kasar, akan tetapi ini lebih baik dari pada lebam mayat oleh karena progresifitasnya dapat ditentukan. (polson). Knight, memberikan opininya mengenai rigor mortis, bagaimanapun juga sangat tidak aman dalam mamperkirakan saat mati dengan menggunakan rigor mortis. Knight selanjutnya mengatakan bahwa perkiraan saat mati dengan menggunakan rigor mortis hanya mungkin digunakan sekitar dua hari, bila suhu tubuh sudah sama dengan suhu lingkungan, tetapi pembusukan belum terjadi. Bila rigor terjadi sudah menyeluruh, ada suatu perkiraan bahwa ini sudah terjadi kurang lebih dua hari, tetapi inipun tergantung kondisi lingkungan.
Di daerah tropis, sebelum terjadi relaksasi sekunder biasanya pembusukan telah terjadi. Pada temperatur panas rigor mortis secara tipikal akan mulai menghilang kurang lebih 36 – 48 jam sesudah kematian. Bila suhu lingkungan tinggi dan kemudia berkembang menjadi pembusukan, secara menyeluruh rigor mortis dapat menghilang dalam 9 – 12 jam sesudah kematian. Semakin cepat pembusukan sebagai akibat dari septikemia yang terjadi pada antemortem dapat menyebabkan semakin cepat menghilangnya rigor mortis.
Secara umum, bila onset terjadinya rigor mortis adalah cepat maka durasinya adalah relatif singkat, dikatakan ada 2 faktor utama yang mempengaruhi onset dan durasi dari rigor mortis ini, faktor pertama adalah suhu lingkungan, dan derajat dari aktifitas otot sebelum mati. Onset dari rigor mortis ini dipercepat dan durasinya dipersingkat pada suhu lingkungan yang tinggi. sebaliknya bila mayat diletakkan dalam lingkungan yang sangat dingin (dibawah 3,5˚C atau 40˚F) maka seluruh cairan tubuh, otot, lemak bawah kulit akan membeku. Cairan sendi yang membeku menyebabkan sendi tidak dapat digerakan. Bila sendi dibengkokan secara paksa maka akan terdengar suara es pecah. Dan mayat yang kaku ini akan menjadi lemas kembali bila diletakan ditempat yang hangat, kemudian rigor mortis akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
Penelitian Krompecher pada tahun 1981 menujukan bahwa otot yang sudah membusuk dimana rigor mortis sudah menghilang masih dapat menunjukan cold steiffening bila berada dalam ruangan bertemperatur 6˚C selama 24 jam, disini dapat dibuktikan bahwa rigor mortis dan cold steiffening adalah dua hal yang berbeda.
Onset dari rigor mortis menjadi cepat dan durasinya menjadi singkat dapat terjadi pada penyakit yang menyebabkan kelelahan otot yang sangat sehingga katabolismenya meningkat seperti kolera, cacar, tifus abdominalis, tuberkulosis, kanker, uremia, penyakit ginjal kronis, tetanus, serangan epilepsi, hidrofobia, skorbut, rematik akut, meningitis, septikemia, piemia dan penyakit abdomen lainnya. Pada keadaan ini rigor mortis hanya berlangsung 1 – 2 jam saja, sehingga sering tidak terlihat oleh pemeriksa. Pada kasus tersambar petir, dimana rigor mortis terjadi secara cepat dan menghilang secara cepat sering tidak terlihat pada waktu pemeriksaan. Keracunan striknin dosis kecil, racun slinal, natrium salisilat, racun penyebab kejang, alkaloid, karbon monoksida, dinitroortocresol (DNOC) pentachlorphenol, dan penghambat cholinesterase, luka gorok pada leher, luka listrik dan luka tembak menyebabkan onset dari rigor mortis yang berlangsung cepat dan mempunyai durasi yang berlangsung singkat.
Selain itu ada dua faktor tambahan lain yang mempengaruhi rigor mortis yaitu faktor endogen lainnya dan faktor lingkungan. Dimana onset rigor mortis ini terjadinya relatif lebih cepat pada anak/bayi dan orang tua bila dibandingkan dengan otot dewasa muda. Pada fetus yang meninggal selalu terjadi rigor mortis, hanya saja onset dan durasinya berlangsung lebih singkat sehingga sering tidak teramati. Di Bombay Famine Hospital pada tahun 1901 pernah dilaporkan adanya rigor mortis pada fetus yang berusia 5 bulan. Pada fetus yang lahir mati, terutama yang aterm, rigor mortis sering ditemukan dalam waktu yang sangat singkat. Fetus yang dikraniotomipun menunjukan adanya rigor mortis. Sehingga dikatakan pada anak-anak dan orang tua proses rigor mortis berlangsung lebih cepat dengan intensitas yang lemah, sedangkan pada remaja dan dewasa sehat rigor mortis berlangsung lambat. Intensitas dari rigor mortis ini tergantung dari perkembangan dari otot mayat itu sendiri, sebagai konsekuensinya, intensitas ini tidak boleh dikacaukan dengan derajat perkembangannya dari rigor mortis. Pada waktu memeriksa rigor mortis ini antara derajat (komplet, parsial, atau absent) dan distribusinya harus ditentukan setelah pemeriksaan sebelum dilakukan manipulasi pada tubuh oleh pemeriksa yang lainnya.
Pada kasus-kasus asfiksia, kelumpuhan otot, perdarahan hebat, dan dekapitasi, rigor mortis dapat berlangsung sampai 14 hari atau lebih. Rigor mortis yang berlangsung lambat dan durasinya lama juga dapat terjadi pada keracunan striknin dosis besar, arsen, merkuri, kloroform, eter, atropin dan narkotik.
Pada lingkungn yang bersuhu tinggi dan lembab, seperti pada daerah tropis, onset rigor mortis berlangsung cepat dan durasinya pun berlangsung singkat. Sebaliknya pada lingkungan bersuhu rendah dan kering, onset rigor mortis ini berlangsung lambat dan durasinyapun berlangsung lebih lama. Pada daerah yang sangat dingin, rigor mortis dapat terhambat munculnya secara tak terbatas dan bila sudah muncul dapat menetap sampai lebih dari 3 minggu.
0 Comments
SISTEM REPRODUKSI
Thursday April 12th 2007, 12:42 pm
Filed under: Uncategorized
SISTEM REPRODUKSI
Reproduksi merupakan proses menghasilkan individu baru dari organisme sebelumnya.
Organisme bereproduksi melalui 2 Cara :
1.
Repoduksi aseksual (vegetatit)
Adalah terbentuknya individu baru tanpa melakukan peleburan sel kelamin.
2.
Reproduksi seksual (generatif)
Umumnya melibatkan persatuan sel kelamin (gamet) dari 2 individu yang berbeda jenis kelamin.
Individu baru (keturunannya) yang terbentuk mempunyai ciri dan sifat yang sama dengan induknya. Individu-individu sejenis yang terbentuk secara reproduksi aseksual dikatakan termasuk dalam satu klon, sehingga anggota dari satu klon mempunyai susunan genetik yang sama.
Reproduksi aseksual dapat dibagi atas
lima jenis, yaitu :
1. Fisi
2. Pembentukan spora
3. Pembentukan tunas
4. Fragmentasi
5. Propagasi vegetatif
Reproduksi Aseksual / Vegetatif
1. FisiFisi terjadi pada organisme bersel satu. Pada proses fisi individu terbelah menjadi dua bagian yang sama.
Contoh :
- Pada pembelahan sel bakteri.
- Pada Plasmodum, reproduksi dengan fisi berganda, yaitu inti sel membelah berulang kali dan kemudian setiap anak inti dikelilingi sitoplasma. Proses ini disebut skizogoni, sel yang mengalami skizogoni disebut skizon.
2. Pembentukan sporaDibentuk di dalam tubuh induknya dengan cara pembelahan sel. Bila kondisi lingkungan baik, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi individu baru, spora dihasilkan oleh jamur, lumut, paku, sporozoa (salah satu kelas protozoa) dan kadang-kadang juga dihasilkan oleh bakteri.
3. Pembentukan tunasOrganisme tertentu dapat membentuk tunas, berupa tonjolan kecil yang akan berkembang dan kemudian mempunyai bentuk seperti induknya dengan ukuran kecil. Kemudian tunas ini akan lepas dari induknya dan dapat hidup sebagai individu baru. Pembentukan tunas merupakan ciri khas sel ragi dan Hydra (sejenis Coelenterata).
4. FragmentasiKadang-kadang satu organisme patah menjadi dua bagian atau lebih, kemudian setiap bagian akan tumbuh menjadi individu baru yang sama seperti induknya. Peristiwa fragmentasi bergantung pada kemampuan regenerasi yaitu kemampuan memperbaiki jaringan atau organ yang telah hilang. Fragmentasi terjadi antara lain pada hewan spons (Porifera), cacing pipih, algae berbentuk benang.
5. Propagasi vegetatifIstilah propagasi vegetatif diberikan untuk reproduksi vegetatif/tumbuhan berbiji. Pada proses propagasi bila bagian tubuh tanaman terpisah maka bagian tersebut akan berkembang menjadi satu/lebih tanaman baru. Propagasi vegetatif alamiah dapat terjadi dengan menggunakan organ-organ sebagai berikut :
a.
Stolon
Stolon adalah batang yang menjalar di atas tanah. Di sepanjang stolon dapat tumbuh tunas adventisia (liar), dan masing-masing tunas ini dapat menjadi anakan tanaman. Contoh: pada rumput teki, rumput gajah dan strawberi.
b.
Akar tinggal atau rizom
Rizom adalah batang yang menjalar di bawah tanah, dapat berumbi untuk menyimpan makanan maupun tak berumbi. Ciri rizom adalah adanya daun yang mirip sisik, tunas, ruas dan antar ruas. Rizom terdapat pada bambu, dahlia, bunga iris, beberapa jenis rumput, kunyit, lengkuas, jahe dan kencur.
c.
Tunas yang tumbuh di sekitar pangkal batang
Tunas ini membentuk numpun, misalnya: pohon pisang, pohon pinang dan pohon bambu.
d.
Tunas liar
Tunas liar terjadi pada tumbuhan yang daunnya memiliki bagian meristem yang dapat menyebabkan terbentuknya tunas-tunas baru di pinggir daun. Contoh: tunas cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dan begonia.
e.
Umbi lapis
Umbi lapis adalah batang pendek yang berada di bawah tanah. Umbi lapis diselubungi oleh sisik-sisik yang mirip kertas. Contoh: tumbuhan lili, tulip dan bawang.
f.
Umbi batang
Umbi batang adalah batang yang tumbuh di bawah tanah, digunakan sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan sehingga bentuknya membesar. Pada umbi terdapat mata tunas - mata tunas yang
akan berkembang menjadi tanaman baru.
Contoh: kentang dan Caladium.
Reproduksi Seksual / GeneratifPada reproduksi generatif terjadi persatuan dua macam gamet dari dua individu yang berbeda jenis kelaminnya, sehingga terjadi percampuran materi genetik yang memungkinkan terbentuknya individu baru dengan sifat baru.
Pada organisme tingkat tinggi mempunyai dua macam gamet, gamet jantan atau spermatozoa dan gamet betina atau sel telur, kedua macam gamet tersebut dapat dibedakan baik dari bentuk, ukuran dan kelakuannya, kondisi gamet yang demikian disebut heterogamet.
Peleburan dua macam gamet tersebut disebut singami. Peristiwa singami didahului dengan peristiwa fertilisasi (pembuahan) yaitu pertemuan sperma dengan sel telur.
Pada organiseme sederhana tidak dapat dibedakan gamet jantan dan gamet betina karena keduanya sama, dan disebut isogamet. Bila salah satu lebih besar dari lainnya disebut anisogamet.
Reproduksi Generatif Pada Angiospermae
Organ yang berfungsi untuk alat reproduksi generatif adalah bunga.
TABEL BAGIAN-BAGIAN BUNGA
BAGIAN BUNGA
FUNGSI
1. Kelopak (kalik)
Melindungi kuncup bunga
2. Mahkota (korola)
Menarik perhatian serangga
3. Benang sari (stamen) terdiri dari :
a.
tangkai sari (filamen)
b.
kepala sari (antera) terdiri atas 4 kantong sari
Sebagai penghasil gamet jantan, yaitu serbuk sari (pollen)
4. Putik (pistilus) terdiri atas :
a.
tangkai putik (stilus)
b.
kepala putik (stigma)
c.
bakal buah (ovarium) di dalam bakal buah terdapat bakal biji (ovule)
Sebagai penghasil gamet betina
Pembentukan Gamet Jantan
Bagaimana pembentukan gamet pada Angiosperma ?
Pembentukan butik serbuk terjadi di dalam kantung serbuk. Di dalam kantung serbuk terdapat banyak sel induk butir serbuk yang diploid. Sel induk butik serbuk ini kemudian akan membelah secara meiosis menjadi 4 sel butir serbuk (mikrospora) yang haploid. Seperti pada bagan berikut.
SEL INDUK BUTIR SERBUK (DIPLOID)
¯ Membelah secara Miosis
EMPAT SEL BUTIR SERBUK (HAPLOID)
¯ Masing-masing inti butir serbuk membelah secara mitosis
SATU INTI VEGETATIF DAN SATU INTI GENERATIF
Pembentukan Gamet Betina
Gamet betina dibentuk di dalam bakal biji (ovule) atau kantung lembaga. Pada bagian ini terdapat sel induk megaspora (sel induk kantug lembaga) yang diploid. Sel ini akan membelah secara meiosis dan dari satu sel induk kantung lembaga membentuk 4 sel yang haploid. Tiga sel akan mereduksi dan lenyap tinggal satu yang berkembang. Selanjutnya, sel ini membelah secara mitosis 3 kali dan terbentuklah 8 sel. Dari sel yang berjumlah 8 ini, 3 sel akan bergerak menuju arah yang berlawanan dengan mikropil, 2 sel lainnya menjadi kandung tembaga sekunder, dan 3 sel terakhir menuju ke dekat mikropil. Dari 3 sel (yang menuju dekat mikropil) yang terakhir ini dua menjadi sinergid dan satu sel lagi menjadi sel telur. Dalam keadaan seperti ini kandung lembaga sudah masak dan siap untuk dibuahi. Putik yang sudah masak biasanya mengeluarkan cairan lengket pada ujungnya yang berfungsi sebagai tempat melekatnya serbuk sari.
Penyerbukan Dan PembuahanPenyerbukan dapat terjadi dengan berbagai perantara :
a.
Perantara angin disebut anemogami, dapat terjadi bila butir serbuknya amat ringan, kecil dan kering.
Contoh : pada pinus, damar, rumput-rumputan.
b.
Perantara air disebut hidrogami.
Contoh : pada tanaman air.
c.
Perantara hewan disebut zoogami.
Bila serangga Þ entomogami
burung Þ ornitogami
siput Þ malakogami
kelelawar Þ kiroptorogami
d.
Perantara manusia disebut antropogami.
Contoh : penyerbukan vanilli di
Indonesia.
Menurut asal serbuk sari, penyerbukan dibedakan menjadi 4 :
a.
Autogami (penyerbukan sendiri)
Serbuk sarinya berasal dari satu bunga yang sama. Bila terjadi pada saat bunga belum mekar disebut kleistogami.
b.
Geitonogami (penyerbukan tetangga)
Bila serbuk sari berasal dari bunga lain yang berada dalam satu pohon (satu individu).
c.
Alogami (penyerbukan silang)
Bila serbuk sari berasal dari bunga pohon lain yang masih satu spesies.
Kadang-kadang terjadi kegagalan penyerbukan dan pada beberapa jenis tumbuhan tidak mungkin terjadi autogami. Penyebabnya adalah sebagai berikut :
a. Dikogami
:
Bila waktu masaknya putik dan serbuk sari tidak bersamaan, hal ini disebabkan karena:
1. Serbuk sari masak lebih dahulu daripada putiknya ….(protandri).
….Contoh : seledri, bawang
Bombay, jagung
2. Putik masak lebih dahulu daripada serbuk sari ….(protogini).
b. Didesious
:
Bila pada satu spesies, alat kelamin jantan dan betinanya terpisah
Contoh : salak dan melinjo (Gnetum Arremon)
c. Heterostili
:
Bila panjang antara tangkai benang sari dan tangkai putik tidak sama dan berbeda jauh.
Contoh : kopi, kina dan kaca piring.
d. Herkogami
:
Bila bentuk bunga tidak memungkinkan serbuk sari jatuh ke kepala putik.
Contoh : vanili
Proses Penyerbukan dan Pembuahan
Butir serbuk/serbuk sari Þ menempel pada kepala putik Þ membentuk buluh serbuk (2 inti, inti vegetatif dan inti generatif) berjalan ke arah mikropil (pintu kandung lembaga) Þ inti generatif membelah Þ 2 inti sperma Þ sampai di mikropil, inti vegetatif mati Þ satu inti sperma membuahi sel telur Þ embrio. Satu inti sperma lain membuahi inti kandung lembaga Þ endosperma (makanan cadangan bagi embrio).
Karena pembuahannya berlangsung dua kali maka pembuahan pada Angiospermae disebut pembuahan ganda.
Embrio pada tumbuhan berbiji tertentu dapat terbentuk karena beberapa sebab. yaitu :
1.
Melalui peleburan sperma dan ovum (amfimiksis)
2. Tidak melalui peleburan sperma dan ovum (apomiksis), yang dapat dibedakan atas:
a. Apogami
:
embrio yang terbentuk berasal dari kandung lembaga. Misalnya : dari sinergid dan antipoda.
b.Partenogenesis
:
embrio terbentuk dari sel telur yang tidak dibuahi.
c. Embrio adventif
:
merupakan embrio yang terbentuk dari sel nuselus, yaitu bagian selain kandung lembaga.
Apomiksis dan amfimiksis dapat terjadi bersamaan, maka akan terbentuk lebih dari satu embrio dalam satu biji, disebut poliembrioni. Peristiwa ini sering dijumpai pada nangka, jeruk dan mangga.
Reproduksi Generatif Pada GymnospermaeOrgan reproduksi pada gymnospermae disebut konus atau strobilus.Di dalam strobilus jantan terdapat banyak anteridium yang mengandung sel-sel induk butir serbuk. Sel-sel tersebut bermeiosis dari setiap sel induk terbentuk 4 butir serbuk yang bersayap.
Pada strobilus betina terdapat banyak arkegonium. Pada tiap-tiap arkegonium terdapat satu sel induk lembaga yang bermeiosis sehingga terbentuk 4 sel yang haploid. Tiga mati, dan satu sel hidup sebagai sel telur. Arkegonium ini bermuara pada satu ruang arkegonium.
Proses Penyerbukan dan Pembuahan
Strobilus jantan Þ serbuk sari Þ jatuh pada tetes penyerbukan (ujung putik) Þ buluh serbuk Þ membelah Þ inti tabung dan inti spermatogen Þ inti spermatogen Þ membelah Þ dua inti sperma Þ membuahi sel telur di dalam ruang arkegonium Þ zigot Þ lembaga di dalam biji Þ tumbuhan baru.
Pembuahan pada gymnospermae disebut pembuahan tunggal, karena tiap-tiap inti sperma membuahi satu sel telur.
Reproduksi Generatif Pada MamaliaPada vertebrata yang hidup di air melakukan fertilisasi di luar tubuh (fertilisasi eksternal).
Contoh : ikan dan katak.
Yang hidup di darat melakukan pembuahan di dalam tubuh (fertilisasi internal).
Pada mammalia jantan, alat kelaminnya disebut penis pada reptil seperti cecak dan kadal menggunakan hemipenis (penis palsu), sedang pada bangsa burung misalnya : bebek, untuk menyalurkan sperma menggunakan ujung kloaka.
Pada hewan yang melakukan fertilisasi internal dikenal adanya 3 macam perkembangan embrio
1. Ovipar/bertelur :
….Bila embrio berkembang di dalam telur.
….Misalnya : pada jenis-jenis burung dan ikan.
2. Ovovivipar/bertelur dan beranak :
….Bila embrio berkembang di dalam telur yang diinkubasi dalam tubuh ….dengan sumber nutrisi berasal dari telur.
….Misalnya : pada beberapa jenis ikan hiu.
3. Vivipar/beranak :
….Bila embrio tumbuh dan berkembang di dalam uterus dan mendapat ….nutrisi dari induknya melalui plasenya.
….Misalnya : pada beberapa jenis mammalia.
Pada umumnya mammalia melahirkan anaknya (vivipar) dan kemudian menyusui anaknya sampai anaknya mandiri. Beberapa perkecualian, misalnya : pada hewan paruh bebek (Platypus), bertelur, setelah menetas anaknya baru disusui. Pada hewan berkantung (Marsupialia), contoh : kanguru, anaknya lahir muda (amat prematur) kemudian merayap masuk, kantung induknya, mencari putting susu, kemudian menyusu dalam kantung sampai mandiri.
1. Alat Reproduksi Mammalia JantanContoh : pada manusia.
Yang berkaitan dengan produksi sperma terdiri dari sepasang kelenjar kelamin yang disebut testis yang disimpan dalam kantung disebut skrotum/kantung pelir. Di dalam testis terdapat saluransaluran halus yang disebut tubulus seminiferus yang merupakan tempat pembentukan spermatozoa. Untuk keluar tubuh spermatozoa melewati saluran epididimis. Saluran ini kemudian melebar menjadi vas deferens yang bermuara pada uretra. Palo pertemuan uretra dengan vas deferens terdapat kelenjar prostat dan di sebelah belakangnya terdapat kelenjar cowper. Kedua kelenjar tersebut berfungsi menghasilkan sekret untuk memberi nutrisi dan mempermudah gerakan spermatozoa.
2. Alat Reproduksi Mammalia BetinaContoh : pada manusia.
Pada manusia terdapat sepasang kelenjar kelamin yaitu ovarium yang berfungsi menghasilkan sel telur. Dalam ovarium terdapat folikel Grad yang akan berkembang menjadi sel telur (ovum). Ovarium dihubungkan dengan uterus (rahim) oleh suatu saluran yang disebut tabung fallopii (Tuba fallopii). Uterus merupakan saluran berongga yang lebih besar dengan bagian ujungnya bersatu membentuk saluran sempit yaitu vagina.
Reproduksi Manusia
Alat Reproduksi pada pria maupun wanita pada dasarnya sama dengan alat reproduksi pada mamalia lain. Pria menghasilkan gamet jantan atau spermatozoa yang berukuran sangat kecil dan berbentuk menyerupai berudu, sedangkan wanita menghasilkan sel telur (ovum) yang dibentuk di dalam ovarium.
Pembentukan Gamet Jantan
Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis. Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel Sertoli yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus yang berfungsi menghasilkan testosteron. Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon.
Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon perangsang folikel (Folicle Stimulating Hormone/FSH) dan hormon lutein (Luteinizing Hormone/LH).
LH merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.
FSH merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari.
Proses Spermatogenesis :
Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer.
Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit sekunder, spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid, spermatid berdiferensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron (Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.
Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 - 400 juta sel spermatozoa.
Pembentukan Gamet Betina
Di dalam ovarium janin sudah terkandung sel pemula atau oogonium. Oogonium akan berkembang menjadi oosit primer. Saat bayi dilahirkan oosit primer dalam fase profase pada pembelahan meiosis. Oosit primer kemudian mengalami masa istirahat hingga masa pubertas.
Pada masa pubertas terjadilah oogenesis. Oosit primer membelah secara meiosis, menghasilkan 2 sel yang berbeda ukurannya. Sel yang lebih kecil, yaitu badan polar pertama membelah lebih lambat, membentuk 2 badan polar. Sel yang lebih besar yaitu oosit sekunder, melakukan pembelahan meiosis kedua yang menghasilkan ovum tunggal dan badan polar kedua. Ovum berukuran lebih besar dari badan polar kedua.
Pengaruh Hormon dalam Oogenesis
Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon FSH yang merangsang pertumbuhan sel-sel folikel di sekeliling ovum. Ovum yang matang diselubungi oleh sel-sel folikel yang disebut Folikel Graaf, Folikel Graaf menghasilkan hormon estrogen. Hormon estrogen merangsang kelenjar hipofisis untuk mensekresikan hormon LH, hormon LH merangsang terjadinya ovulasi. Selanjutnya folikel yang sudah kosong dirangsang oleh LH untuk menjadi badan kuning atau korpus luteum. Korpus luteum kemudian menghasilkan hormon progresteron yang berfungsi menghambat sekresi DSH dan LH. Kemudian korpus luteum mengecil dan hilang, sehingga aklurnya tidak membentuk progesteron lagi, akibatnya FSH mulai terbentuk kembali, proses oogenesis mulai kembali.
Catatan : Pada laki-laki spermatogenesis terjadi seumur hidup, dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat. Pada wanita, ovulasi hanya berlangsung sampai umur sekitar 45 - 5O tahun. Seorang wanita hanya mampu menghasilkan paling banyak 400 ovum selama hidupnya, meskipun ovarium seorang bayi perempuan sejak lahir sudah berisi 500 ribu sampai 1 juta oosit primer.Setiap bulan wanita melepaskan satu sel telur dari salah satu ovariumnya. Bila sel telur ini tidak mengalami pembuahan maka akan terjadi perdarahan (menstraasi). Menstruasi terjadi secara perfodik satu bulan sekali.
Saat wanita tidak mampu lagi melepaskan ovum karena sudah habis tereduksi, menstruasi pun menjadi tidak teratur lagi, sampai kemudian terhenti sama sekali. Masa ini disebut menopause
Sistem Reproduksi Wanita
Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi pembuahan, endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.
Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut :
Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus.
Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.
Kehamilan Dan Persalinan
Peristiwa fertilisasi terjadi di saat spermatozoa membuahi ovum di tuba fallopii, terjadilah zigot, zigot membelah secara mitosis menjadi dua, empat, delapan, enam belas dan seterusnya. Pada saat 32 sel disebut morula, di dalam morula terdapat rongga yang disebut blastosoel yang berisi cairan yang dikeluokan oleh tuba fallopii, bentuk ini kemudian disebut blastosit. Lapisan terluar blastosit disebut trofoblas merupakan dinding blastosit yang berfungsi untuk menyerap makanan dan merupakan calon tembuni atau ari-ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya disebut simpul embrio (embrionik knot) merupakan calon janin. Blastosit ini bergerak menuju uterus untuk mengadakan implantasi (perlekatan dengan dinding uterus).
Pada hari ke-4 atau ke-5 sesudah ovulasi, blastosit sampai di rongga uterus, hormon progesteron merangsang pertumbuhan uterus, dindingnya tebal, lunak, banyak mengandung pembuluh darah, serta mengeluarkan sekret seperti air susu (uterin milk) sebagai makanan embrio.
Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus (melakukan implantasi) dan melepaskan hormon korionik gonadotropin. Hormon ini melindungi kehamilan dengan cara menstrimulasi produksi hormon estrogen dan progesteron sehingga mencegah terjadinya menstruasi. Trofoblas kemudian menebal beberapa lapis, permukaannya berjonjot dengan tujuan memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio telah kuat menempel setelah hari ke-12 dari fertilisasi.
1. Pembuatan Lapisan Lembaga Setelah hari ke-12, tampak dua lapisan jaringan di sebelah luar disebut ektoderm, di sebelah dalam endoderm. Endoderm tumbuh ke dalam blastosoel membentuk bulatan penuh. Dengan demikian terbentuklah usus primitif dan kemudian terbentuk
Pula kantung kuning telur (Yolk Sac) yang membungkus kuning telur. Pada manusia, kantung ini tidak berguna, maka tidak berkembang, tetapi kantung ini sangat berguna pada hewan ovipar (bertelur), karena kantung ini berisi persediaan makanan bagi embrio.
Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terbentuk lapisan mesoderm. Ketiga lapisan tersebut merupakan lapisan lembaga (Germ Layer). Semua bagian tubuh manusia akan dibentuk oleh ketiga lapisan tersebut. Ektoderm akan membentuk epidermis kulit dan sistem saraf, endoderm membentuk saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan, mesoderm membentuk antara lain rangka, otot, sistem peredaran darah, sistem ekskresi dan sistem reproduksi.
2.
Membran (Lapisan Embrio)
Terdapat 4 macam membran embrio, yaitu :
a. Kantung Kuning Telur (Yolk Sac)Kantung kuning telur merupakan pelebaran endodermis berisi persediaan makanan bagi hewan ovipar, pada manusia hanya terdapat sedikit dan tidak berguna.
b.
Amnion
Amnion merupakan kantung yang berisi cairan tempat embrio mengapung, gunanya melindungi janin dari tekanan atau benturan.
c. AlantoisPada alantois berfungsi sebagai organ respirasi dan pembuangan sisa metabolisme. Pada mammalia dan manusia, alantois merupakan kantung kecil dan masuk ke dalam jaringan tangkai badan, yaitu bagian yang akan berkembang menjadi tall pusat.
d. KorionKorion adalah dinding berjonjot yang terdiri dari mesoderm dan trofoblas. Jonjot korion menghilang pada hari ke-28, kecuali pada bagian tangkai badan, pada tangkai badan jonjot trofoblas masuk ke dalam daerah dinding uterus membentuk ari-ari (plasenta). Setelah semua membran dan plasenta terbentuk maka embrio disebut janin/fetus.
3. Plasenta atau Ari-AriPlasenta atau ari-ari berbentuk seperti cakram dengn garis tengah 20 cm, dan tebal 2,5 cm. Ukuran ini dicapai pada waktu bayi akan lahir tetapi pada waktu hari 28 setelah fertilisasi, plasenta berukuran kurang dari 1 mm. Plasenta berperan dalam pertukaran gas, makanan dan zat sisa antara ibu dan fetus. Pada sistem hubungan plasenta, darah ibu tidak pernah berhubungan dengan darah janin, meskipun begitu virus dan bakteri dapat melalui penghalang (barier) berupa jaringan ikat dan masuk ke dalam darah janin.
Catatan :
Makin tua kandungan, jumlah estrogen di dalam darah makin banyak, progesteron makin sedikit. Hal ini berhubungan dengan sifat estrogen yang merangsang uterus untuk berkontraksi, sedangkan progesteron mencegah kontraksi uterus. Hormon oksitosin yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis jugs berperan dalam merangsang kontraksi uterus menjelang persalinan. Progesteron dan estrogen juga merangsang pertumbuhan kelenjar air susu, tetapi setelah kelahiran hormon prolaktin yang dihasilkan kelenjar hipoftsislah yang merangsang produksi air susu.
Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah suatu cara yang bertujuan mencegah terjadinya pembuahan, terdapat beberapa metode, antara lain:
a. Tanpa Alat BantuDengan cara tidak melakukan koitus pada masa subur wanita (hari 12 - 16 siklus haid). Cara ini dikenal dengan nama sistem kalender atau abstinensi.
b. Menggunakan Alat BantuMencegah pertemuan ovum dengan spermatozoa, dapat dilakukan dengan berbagai alat bantu, misalnya : kondom, spiral, jelly, dan lain-lain.
c. SterilisasiSterilisasi dilakukan dengan mengikat/memotong saluran vas defereus dikenal dengan istilah vasektomi, atau mengikat/memotong tuba fallopii dikenal dengan istilah tubektomi.
Poliploidi
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Organisme hidup pada umumnya memiliki sepasang set kromosom pada sebagian besar tahap hidupnya. Kondisi ini disebut diploid (disingkat 2n). Namun demikian, sejumlah organisme pada tahap yang sama memiliki lebih dari sepasang set. Gejala semacam ini dinamakan poliploidi (dari bahasa Yunani πολλαπλόν, berganda). Organisme dengan kondisi demikian disebut poliploid. Tipe poliploid dinamakan tergantung banyaknya set kromosom. Jadi, triploid (3n), tetraploid (4n), pentaploid (5n), heksaploid (6n), oktoploid, dan seterusnya. Dalam kenyataan, organisme dengan satu set kromosom (haploid, n) juga ditemukan hidup normal di alam.
Poliploidi umum terjadi pada tumbuhan. Ia ditemukan pula pada hewan tingkat rendah (seperti cacing pipih, lintah, atau beberapa jenis udang), dan juga fungi.
[sunting]
Bagaimana poliploid terjadi?
Di alam, poliploid dapat terjadi karena kejutan listrik (petir), keadaan lingkungan ekstrem, atau persilangan yang diikuti dengan gangguan pembelahan sel. Perilaku reproduksi tertentu mendukung poliploidi terjadi, misalnya perbanyakan vegetatif atau partenogenesis, dan menyebar luas.
Poliploidi buatan dapat dilakukan dengan meniru yang terjadi di alam, atau dengan menggunakan mutagen. Kolkisin adalah mutagen yang umum dipakai untuk keperluan ini. Efeknya cepat diketahui dan aplikasinya mudah. Penggunaannya beresiko tinggi karena kolkisin juga sangat karsinogenik.
Autopoliploid terjadi apabila suatu spesies, karena salah satu sebab di atas, menggandakan set kromosomnya dan kemudian saling kawin dengan autopoliploid lain. Pola pewarisan autopoliploid rumit karena melibatkan perpasangan empat, enam, atau delapan set kromosom. Allopoliploid terjadi karena persilangan antarspesies dengan genom yang berbeda tanpa diikuti reduksi jumlah sel dalam meiosis. Biasanya, pola pewarisan allopoliploid serupa dengan diploid biasa (pewarisan disomik) apabila telah berlangsung beberapa generasi. Amfidiploid adalah allotetraploid yang perilaku pewarisannya benar-benar serupa dengan diploid.
[sunting]
Efek poliploidi pada organisme
Poliploidi seringkali memberikan efek dramatis dalam penampilan atau pewarisan sifat yang bisa positif atau negatif. Tumbuhan secara umum bereaksi positif terhadap poliploidi. Tetraploid (misalnya kentang) dan heksaploid (misalnya gandum) berukuran lebih besar (reaksi "gigas", atau "raksasa") daripada leluhurnya yang diploid. Karena hasil panen menjadi lebih tinggi, poliploidi dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman. Berbagai kultivar tanaman hias (misalnya anggrek) dibuat dengan mengeksploitasi poliploidi.
Reaksi negatif terjadi terhadap kemampuan reproduksi, khususnya pada poliploidi berbilangan ganjil, meskipun ukurannya membesar. Karena terjadi ketidakseimbangan pasangan kromosom dalam meiosis, organisme dengan ploidi ganjil biasanya mandul (steril). Pemuliaan tanaman, sekali lagi, mengeksploitasi gejala ini. Karena mandul, semangka triploid tidak memiliki biji yang normal (bijinya tidak berkembang normal atau terdegenerasi) dan dijual sebagai "semangka tanpa biji". Penangkar tanaman hias menyukai tanaman triploid karena biji tanaman ini tidak bisa ditumbuhkan sehingga konsumen harus membeli tanaman dari si penangkar.
Hewan bertulang belakang (vertebrata) bereaksi negatif terhadap poliploidi. Biasanya yang terjadi adalah kematian pralahir.
[sunting]
Teladan
Poliploidi pada mamalia biasanya berakhir dengan kematian pralahir. Vertebrata tertentu, seperti salamander dan kadal, juga memiliki "versi" poliploid. Cacing pipih, lintah, dan udang, dibantu dengan perilaku partenogenesis, juga memiliki anggota yang poliploid.
Pada tumbuhan, khususnya tumbuhan berbunga, poliploid mudah ditemukan baik terjadi secara alami atau campur tangan manusia (baik sengaja maupun tidak) dalam proses pemuliaannya. Contohnya panjang:
Gandum, dengan berbagai versi tetraploid (gandum durum) dan heksaploid (gandum roti),
Raps dan kerabatnya, yang keterkaitannya ditunjukkan secara sederhana dalam segitiga U,
Kentang (4n),
Kapas (4n)
Tebu (multiploid, dapat mencapai lebih dari 8n),
Pisang ambon, pisang raja (3n, sehingga tidak berbiji normal),
Triticale (4n),
Berbagai anggrek hias,
Stroberi (8n),
Semangka tanpa biji.
REVOLUSI PUTIH SEBAGAI SALAH SATU UPAYA
Setiap makhluk hidup memiliki naluri atau keinginan untuk berkembang biak. Tujuan berkembang biak adalah untuk mempertahankan kelestarian jenisnya, karena dalam aktivitas pembiakan terjadi proses penurunan sifat dari induk kepada keturunannya. Semakin tinggi tingkat pembiakan suatu jenis makhluk hidup, maka semakin banyak jumlah populasinya.
Pembiakan Makhluk Hidup
Secara biologi, proses pembiakan pada makhluk hidup dapat terjadi dengan dua macam cara, yaitu secara generatif dan vegetatif. Perbedaan diantara keduanya dapat dilihat dari penjelasan definisi masing-masing.
Pembiakan secara generatif yaitu terbentuknya individu baru diawali dengan proses peleburan sel kelamin, sehingga dua induk dan sifat anak bervariasi dengan jumlah kromosom diploid (2n), serta waktu pembiakannya cukup lama. Menurut prosesnya, pembiakan generatif terbagi menjadi dua macam, yaitu pembiakan generatif alami dan pembiakan genaratif buatan. Sementara proses peleburan sel itu sendiri terjadi dengan tiga macam cara, yaitu sebagai berikut.
1. Konjugasi yaitu proses peleburan dua sel kelamin yang belum jelas bentuknya. Cara seperti ini terjadi pada makhluk hidup tingkat rendah, contohnya : Paramecium, Rhizopus, Spyrogira, Clami Domonas, dan lain-lain.
2. Isogami yaitu proses peleburan dua sel kelamin yang bentuk dan ukurannya sama. Cara seperti ini terjadi pada makhluk hidup yang tergolong Hermaprodit (berkelamin ganda), contohnya : Cacing Tanah, Siput Darat (bekicot), Cacing Pita, dan lain-lain.
3. Anisogami atau Heterogami yaitu proses peleburan dua sel kelamin yang bentuk dan ukurannya berbeda. Cara seperti ini terjadi pada makhluk hidup tingkat tinggi, contohnya : Manusia, Hewan Vertebrata, Tumbuhan Bunga, dan lain-lain.
Pembiakan secara vegetatif yaitu terbentuknya individu baru tanpa melalui proses peleburan sel kelamin, tetapi berasal dari bagian tubuh induknya, sehingga jumlah induk yang terlibat hanya satu, dan sifat anak sama persis dengan induknya. Jumlah kromosom haploid (n), serta waktu pembiakannya cukup singkat.
Menurut prosesnya, pembiakan secara vegetatif terbagi menjadi dua macam cara seperti berikut ini.
1. Vegetatif alami, contohnya : Pembelahan (Fragmentasi), Spora, dan Tunas.
2. Vegetatif buatan, contohnya : Stek, Cangkok, Merunduk, Okulasi, Kopulasi, Sistem Kultur Jaringan, Transplantasi Gen, dan Kloning.
Berdasarkan pada penjelasan definisi mengenai perbedaan cara pembiakan pada makhluk hidup dapat disimpulkan ke dalam bentuk bagan sebagai berikut.
Pembeda Pembiakan Generatif Pembiakan Vegetatif
Terbentuknya individu baru Melalui peleburan sel kelamin Tanpa melalui peleburan sel kelamin
Sifat anak Bervariasi Sama persis dengan induknya
Jumlah kromosom Diploid (2n) Haploid (n)
Waktu pembiakan Cukup lama Cukup singkat
Keterikatan Manusia Dengan Sumber Bahan Makanan
Dari sekian banyak jenis makhluk hidup yang berkembang biak masing-masing memiliki tingkat reproduksi yang berbeda. Ternyata tingkat reproduksi pada manusia memiliki kecenderungan kenaikan yang cukup tinggi, sehingga menimbulkan peningkatan jumlah penduduk. Peningkatan jumlah penduduk yang cepat sering disebut dengan istilah ledakan penduduk.
Ledakan penduduk oleh Thomas Robert Malthus (ahli kependudukan berkebangsaan Inggris) dianggap sebagai penyebab adanya kemiskinan, karena penghuni bumi ini terus bertambah sedangkan ruang permukaan bumi tetap tidak bertambah (Suryani, dkk. : 1987). Maka dampak lanjutannya, laju pertumbuhan penduduk tidak akan pernah terkejar oleh pertambahan sumber bahan makanan.
Ketidakseimbangan pertambahan penduduk dengan pertambahan produksi pangan ini sangat mempengaruhi keadaan lingkungan hidup dimana lingkungan hidup terus diperas dan dikuras untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sebagai akibatnya lingkungan hidup ini semakin rusak dan berkurang kemampuan produktivitasnya.
Indonesia termasuk negara yang harus berjuang melawan laju pertumbuhan penduduk. Tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini besarnya mencapai 1,61 % tiap tahun. Ini berarti bahwa jumlah penduduk Indonesia akan menjadi dua kali lipat jumlahnya dalam jangka waktu kurang lebih 43 tahun lagi dengan catatan tingkat pertumbuhannya tetap (Diknas : 2004).
Pertumbuhan penduduk seperti yang terjadi saat ini menimbulkan banyak masalah kependudukan. Tidak hanya kekurangan sumber bahan makanan, tetapi juga kekurangan kesempatan kerja, pendidikan, tempat tinggal, air bersih, kerusakan lingkungan, dan berbagai macam masalah lainnya.
Untuk mengatasi masalah kependudukan yang cukup kompleks (terutama dalam mengatasi masalah kekurangan sumber bahan makanan), maka pemerintah menempuh kebijaksanaan dengan cara sebagai berikut.
1. Meningkatkan produksi pangan dengan mencari bibit unggul melalui cara-cara sebagai berikut.
a. Persilangan yang biasa dilakukan oleh Balai Persilangan Padi Bogor, dengan menghasilkan jenis padi Bengawan. Sementara di tingkat internasional, dilakukan penelitian di Filipina oleh IRRI dengan menghasilkan jenis padi IR.
b. Melalui radiasi, biasanya dilakukan oleh BATAN di Bandung dengan menghasilkan kedelai muria.
2. Mencari sumber bahan makanan baru melalui cara-cara sebagai berikut.
a. Revolusi biru, yaitu pemanfaatan secara besar-besaran sumber kekayaan alam yang ada di laut. Seperti memanfaatkan berbagai jenis ganggang (rumput laut), kerang hijau, dan udang.
b. Revolusi hijau, yaitu pemanfaatan secara besar-besaran sumber kekayaan alam yang ada di darat terutama tumbuh-tumbuhan hijau. Seperti memanfaatkan jenis rumput teki.
c. Revolusi putih, yaitu pemanfaatan mikro organisme dalam pembuatan berbagai jenis makanan dan minuman sebagai berikut.
- Minuman keras dengan memanfaatkan Saccharomyces Cerevisiae.
- Tempe dengan memanfaatkan Rhizopus Oryzae.
- Oncom dengan memanfaatkan Neurosphora Sitophila.
- Roti dengan memanfaatkan Saccharomyces Cerevisiae.
- Tape dengan memanfaatkan Yeast (Khamir) / Ragi.
- Kecap dengan memanfaatkan Aspergillus Oryzae, Aspergillus Wentii, dan Monilia Sitophila.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa kecap berwujud cairan yang mengandung campuran dari zat-zat yang terlarut di dalamnya. Zat-zat yang di kandung dalam kecap itu mudah dicernakan dan diisap oleh tubuh. Padahal bahan pokok pembuatan kecap itu sendiri adalah kacang kedelai hitam, sedangkan yang lainnya adalah bahan-bahan yang bersifat pengawet dan penyedap. Di sini kita sudah menemukan masalah, bagaimana proses perombakan kedelai itu hingga menjadi bahan pembuatan kecap ?
Kehidupan dari mikro oganisme ada yang bersifat parasit dan ada pula yang bersifat menguntungkan bagi kehidupan manusia, antara lain yang berperan dalam pembuatan kecap. Mikro oganisme yang berguna dalam pembuatan kecap adalah sejenis kapang. Kapang yang dimanfaatkan dalam proses pembuatan kecap diantaranya Aspergillus Oryzae dan Aspergillus Wentii, serta Monilia Sitophila. Dengan diketahui jenis kapangnya, maka langkah selanjutnya adalah memikirkan bagaimana mengatur agar kapang tersebut dapat tumbuh pada kedelai yang telah dipersiapkan dan memperhitungkan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar kapang tersebut dapat merombak kedelai hingga menjadi zat-zat penyusun kecap ? Tentu dalam hal ini kita harus mengetahui syarat-syarat untuk pertumbuhan kapang.
Penelitian-penelitian menunjukan bahwa perombakan zat-zat untuk bahan kecap yang lebih sempurna, tidak hanya dilakukan oleh jenis kapang, melainkan juga oleh jenis bakteri tertentu. Di sini persoalannya adalah bagaimana mengatur agar yang bekerja dalam perombakan zat itu hanya jenis bakteri dan khamir (sejenis kapang) yang diinginkan saja. Tentu di sini ada pola dan teknik tertentu yang akan dibicarakan kemudian.
Bilamana zat-zat yang dikandung oleh kedelai itu sudah diubah menjadi zat-zat yang mudah larut dalam air, persoalan selanjurtnya adalah bagaimana agar kecap itu beroleh rasa yang sedap. Tentu saja harus dicari bumbu-bumbu apa yang akan digunakan dalam campuran kecap itu sehingga memenuhi selera konsumennya. Kemudian langkah yang terakhir adalah bagaimana cara mengawetkan dan menyimpannya.
Bahan-bahan Pembuatan Kecap
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa kecap mengandung zat-zat pelarut. Hasil penelitian telah menunjukan bahwa di dalam kecap terkandung protein (6 %), lemak (1 %), karbohidrat (9 %), garam (18 %), air (63 %), dan senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Kandungan lainnya adalah asam amino yang terdiri dari 17 macam dengan asam amino utamanya adalah asam glutamat. Asam glutamat dan garam-garamnya merupakan bahan penyedap utama di dalam kecap (Betty Sri Laksmi dan Deddy Muchtadi, 1978). Selain itu kecap juga mengandung asam organik. Zat-zat terlarut tersebut berasal dari bahan pokok pembuatan kecap, yaitu kacang kedelai. Dengan demikian, mutu kecap tergantung kepada jenis kedelai yang digunakan sebagai bahan bakunya.
Selain kacang kedelai, kecap dilengkapi dengan bahan-bahan penyedap rasa. Ini tergantung kepada bumbu yang kita berikan. Kecap pada umumnya berwarna hitam, karena zat warna yang tedapat di dalam kedelai hitam. Ada pula orang sengaja memberi warna pada kecap dengan jalan memberi kluek hitam.
Untuk kecap-kecap spesial, maka perlu ditambahkan bumbu khas. Misalnya kecap udang adalah diberi bumbu sari udang. Persoalan kita sekarang adal
h bagaimana agar sari-sari makanan yang dikandung kedelai itu dapat larut di dalam air penggodogan. Pengolahan kedelai untuk pembuatan kecap berbeda dengan pengolahan kedelai untuk kepentingan pembuatan jenis makanan lainnya.
Berikut adalah gambaran alat dan bahan yang diperlukan dalam pembuatan kecap.
Alat-alat : bakul, nyiru (tampah), ayakan (tapisan), panci besar, saringan kain, sendok sayur, kompor, kuali baja, kayu pengaduk.
Bahan-bahan : - kacang kedelai hitam,
- air bersih,
- bumbu-bumbu : garam, gula, lengkuas, bawang putih, daun salam, sereh wangi, pandan wangi, kayu manis, wijen, dan biji adas. Kadang-kadang ditambahkan kemiri, udang esi, pecin atau kaldu sebagai bahan penyedap.
Langkah-langkah pembuatan kecap
Untuk pengambilan sari-sari makanan dari kedelai memerlukan teknik pengolahan tertentu karena tidak mudah dipisahkan secara biasa saja. Teknik pemecahan atau perombakan zat-zat yang terdapat dalam kedelai itu harus dengan cara proses kimiawi, antara lain secara fermentasi.
Untuk melakukan fermentasi terhadap bahan kedelai dibutuhkan jenis mikro oganisme tertentu. Pada fermentasi tahap pertama dibutuhkan sejenis kapang dari genus Aspergillus dan Rhizophus. Ada 2 jenis kapang yang baik untuk pembuatan kecap, yaitu Aspergillus wentii dan Aspergillus oryzae. Persoalan kita sekarang adalah bagaimana usaha kita agar kapang tersebut dapat tumbuh pada kedelai yang akan dijadikan bahan kecap itu ? Untuk menjawab persoalan ini kita harus memahami syarat-syarat pertumbuhan kapang.
Syarat-syarat pertumbuhan kapang adalah diperlukan substar dari bahan organik yang sudah mati atau lapuk, lingkungan yang lembab (mengandung air) dan kurang cahaya. Sehubungan dengan itu, kacang kedelai harus direbus terlebih dahulu di dalam air hingga benar-benar masak. Untuk mempercepat proses pemasakan, kedelai sebelumnya harus direndam dulu di dalam air selama 1 malam. Biasanya merebus kedelai rendaman sampai masak memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana memikat atau mendatangkan kapang supaya menumbuhi biji kedelai yang kita sediakan ?
Untuk mendatangkan kapang dapat ditempuh melalui 2 cara. Cara pertama, adalah dengan memberinya bibit kapang dan mengaduknya secara merata. Cara kedua, adalah dengan menebarkan kedelai yang sudah dimasak itu ke dalam nyiru (tampah) dalam beberapa jam sampai kedelai yang panas itu menjadi dingin. Hal ini dimaksudkan supaya spora-spora yang bertebangan di udara dapat jatuh di dalam medium kedelai tadi.
Langkah selanjutnya adalah menutup kedelai itu dengan daun waru atau daun pisang yang rapat. Kemudian simpanlah dan biarkan sampai 4 - 5 hari pada suhu kamar. Tetapi sekali-sekali periksa keadaan suhunya, agar jangan sampai melebihi 35 derajat Celcius. Usaha untuk mengurangi suhu yang tinggi adalah dengan jalan membuka tutupnya dan kedelai itu dibalik-balikkan dengan sendok. Sesudah itu tutup kembali persemaian tersebut dan simpan ditempat semula.
Cendawan yang diharapkan tumbuh pada kedelai itu adalah berwarna putih (miseliumnya), bila sudah tua berubah menjadi berwarna coklat sampai hitam kopi. Untuk menghsilkan kecap yang baik sekali harus menggunakan kapang jenis Monilia sitophila (Neurospora sitophila), yang berwarna oranye (merah-jingga). Kapang-kapang inilah yang melakukan fermentasi atau perombakan zat-zat yang terdapat di dalam biji kedelai menjadi bahan-bahan yang mudah larut dalam air. Biji kedelai itu oleh kapang dapat diubah menjadi zat-zat protein dan karbohidrat, yang selanjutnya dapat diubah menjadi protein sederhana (peptonpeptida dan asam-asam amino) dan karbonhidrat sederhana (maltosa, glukosa, galakosa).
Selama proses fermentasi pertama, kapang memproduksi enzim yang memecah komponen zat-zat dari kacang kedelai, tetapi pemecahan ini belum berlangsung secara sempurna. Berbagai jenis asam amino, terutama asam glutamat dan garam-garamnya yang memberi rasa khas pada kecap belum bisa terlarutkan dalam air. Dengan demikian fermentasi pertama ini perlu dihentikan supaya tidak menimbulkan efek samping yang merugikan. Sebab, dengan terurainya komponen zat dalam kedelai akan mengundang bakteri pembusuk lainnya yang tidak kita inginkan, sehingga menimbulkan bau pesing (berbau seperti air kencing) pada kedelai itu. Penghentian fermentasi dapat dilakukan dengan cara menjemur kedelai itu hingga kering. Bila sudah kering, kapangnya dapat kita buang.
Akhirnya dengan perantaraan angin yang ditiupkan kepada kedelai itu, kedelai dapat dibersihkan dari kapangnya. Untuk menghindari masuknya debu kapang yang telah mengering ke dalam pernapasan kita, maka tutuplah lubang-lubang pernapasan kita dengan sapu tangan besar.
Sekarang kita kembali kepada persoalan semula, yaitu bagaimana caranya mengambil sari-sari zat dalam kedelai itu sehingga dapat terlarutkan di dalam air sebanyak-banyaknya. Untuk mencapai hal ini perlu dilakukan fermentasi tahap kedua.
Fermentasi kedua ini dilakukan di dalam larutan garam 20 % - 30 %. Dalam fermentasi ini jenis mikroba yang aktif adalah Lactobacilus Sp. (jenis bakteri) dan Zygosaccharomyces Sp atau Hansenulla Sp. dari golongan khamir (sejenis kapang mikroskopis).
Banyaknya larutan garam yang kita butuhkan adalah tergantung kepada banyaknya kedelai yang kita rendam. Di perusahaan-perusahaan, kedelai itu biasanya direndam dalam guci-guci besar. Fermentasi kedua ini dilakukan pada suhu kamar. Menurut pengalaman orang, makin lama waktu yang dipergunakan untuk fermentasi dalam larutan garam akan lebih enak kecapnya. Jadi pada fermentasi kedua ini banyak sari-sari kedelai terlarutkan dalam air.
Faktor yang mempengaruhi mutu kecap adalah jenis mikroba yang aktif, varietas kacang kedelai yang digunakan, dan lamanya waktu fermentasi. Setelah fermentasi kedua selesai, pada rendaman kedelai ini ditambahkan air sedikit, kemudian dididihkan. Setelah mendidih, saringlah air rendaman tersebut dengan kain blacu yang bersih dan tempatkan pada panci yang besar pula. Cairan hasil saringan tersebut dididihkan kembali sambil diberi karamel dan bumbu-bumbu lain, misalnya laos, daun salam, wijen, sereh, kayu manis, dan bawang putih.
Selesai masa pendidihan, kecap itu terus disaring lagi dalam keadaan panas-panas. Kecap yang diperoleh kemudian disimpan dalam panci yang tertutup. Biarkan kecap itu sampai dingin, bila sudah dingin barulah dibotolkan dan diberi etiket atau label kemasan.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar